Pilih mana, Occupancy tinggi ? atau Average Room Rate (ARR) tinggi ?

Well, kali ini saya akan bercerita mengenai obrolan ringan saya dengan salah seorang sohib saya yang saat ini berprofesi sebagai seorang  accountan di sebuah hotel di ubud bali. Saat itu kami sedang berada di sebuah warung  yang nyaman di kawasan ubud, dimana atmosfirnya menciptakan suasana obrolan santai tapi saya rasa cukup ber”gizi” untuk di sharing dengan teman-teman hotel disini.

Dari obrolan “ngalor ngidul “ kami ada sebuah topic yang menurut saya cukup menarik yang akan saya bagi, yaitu mengenai  pilihan : Jika Anda menjalankan hotel/guesthouse , mau occupancy tinggi? atau average room rate tinggi?.

Topic ini bermula dari cerita pergantian yang terjadi di managemen hotel  beliau, general manager (GM) sebelumnya yang berasal dari orang accounting lebih mementingkan Average room rate (ARR) tinggi ketimbang mengejar  occupancy tinggi. Sedangkan GM yang baru yang berasal dari marketing,yang lebih  konsentrasi pada bagaimana meningkatkan occupancy tanpa perlu melihat optimalisasi pendapatan yang di raih.can-hear-running-water Sebelum lebih jauh membahas mengenai hal ini, alangkah baiknya jika saya sedikit menyinggung tentang istilah occupancy dan average room rate. Gak usah mbahas rumus-rumus  perhotelan yang njilmet (karena rumusnya tanya sendiri ke mbah google ya..:)), gampanganya istilah pertanyaan diatas penjabarannya mungkin sebagai berikut:

Jika Anda punya hotel dengan tipe kamar (mulai dari yang paling murah) : standard, deluxe, superior dan suite. Anda pilih mana, occupancy sampai dengan 80-90% tapi yang banyak terjual standard dan deluxe? Ataukan occupancy cukup 50-60% tapi yang banyak terjual kamar suite dan superirior? Karena secara pendapatan mungkin sama.

Dari sini… Sebenarnya tidak ada jawaban benar salah dalam pilihan ini, karena semua pilihan punya argument yang bagus. Yang memilih average room rate tinggi lebih penting dari occupancy tinggi memiliki alasan seperti berikut :

  1. Dengan kerja lebih santai (karena melayani tamu hanya sedikit), seorang karyawan akan memiliki pendapatan service yang sama dengan occupancy tinggi (lihat ilustrasi diatas) karena pendapatan hotel relative sama(Catatan: service berbanding lurus dengan pendapatan)
  2. Karena tamu lebih sedikit, maka karyawan lebih bisa memberikan layanan secara maksimal (yang akhirnya berimbas pada pendapatan hotel lagi)
  3. Jika ada complain tentang kamar dari tamu, masih ada (banyak)alternative lain untuk bisa memindahkan tamu ke kamar yang lain

Sedangkan alasan lebih memilih occupancy tinggi tanpa melihat average room rate bisa didasari hal-hal berikut

  1. Dimana-mana, ukuran kesuksesan hotel dilihat dari occupancynya
  2. Dengan banyaknya tamu hotel, maka faktor tiping point (jawa: getok tular) dari tamu tentang “bagusnya” hotel kita akan lebih cepat tersebar
  3. Euphoria di karyawan bahwa hotel kita maju bisa akan terlihat
  4. Rumusnya lebih mudah menjelasakan ke karyawan bahwa jika ingin service tinggi , maka tamu harus banyak

Well, sekali lagi, menurut saya tidak ada benar salah dalam pilihan ini, tapi penting bagi kita sebagai pengelola hotel memahami plus minus mengenai pilihan ini. Demikian sharing singkat mengenai obrolan saya, semoga bermanfaat bagi Anda.

Salam Sukses

Gunawan

KPHG – Indonesia

pusathotel.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s